Sejarah SMAK Diponegoro Blitar

Sejarah SMAK Diponegoro Blitar

Anda ingin sekolah dengan segudang prestasi, kreasi dan berpengalaman …. SMAK Diponegoro Blitar lah sekolahnya…Dan Ayooo Segera bergabung di SMAK Diponegoro Blitar

Sejarah perkembangan agama Katolik di Jawa Timur tidak terlepas dari peran Kota Blitar. Sejak masa kolonial, kota kecil ini merupakan salah satu pusat misi-misi Katolik. Mereka bergerak terutama dalam bidang pendidikan.
Awal perkembangan SMAK Diponegoro diawali dengan beberapa misionaris yang telah merintis sejak tahun 1926 bermula dari HIS di daerah Blitar. Pada tanggal 1 Juli 1926 berdiri HIS (Hollandsch Inlandsche School) yang terafiliasi dengan Yayasan Yohanes Gabriel. Sekolah inilah cikal bakal dari SMAK Diponegoro sekarang, yang juga menempati bangunan sekolah yang sama yang berada di Jl. Diponegoro No.32, Sanan Wetan, Blitar.
HIS merupakan satuan pendidikan yang pertama kali dibuka di Hindia Belanda pada 1914 sebagai salah satu realisasi Politik Etis. Sekolah ini berada pada jenjang pendidikan dasar yang ditujukan bagi anak-anak golongan pribumi elit, seperti bangsawan, tokoh terkemuka dan pegawai negeri. Lama pendidikannya tujuh tahun. Bahasa pengantarnya bahasa Belanda, berbeda dengan Inlandsche School yang berpengantar bahasa daerah.
Pada tahun 1927 sekolah ini dilengkapi dengan asrama dan didirikan pula pastoran. Dua orang romo kemudian tinggal di tempat itu yaitu Rm. J. Wolters dan Rm. A. Basiaensen. Selain itu didatangkan pula suster-suster abdi roh kudus (SSpS) yang sebelumnya sudah hadir di Surabaya untuk menangani rumah sakit (RKZ). Di Blitar mereka berkarya terutama di bidang pendidikan bagi anak gadis dan pemeliharaan kesehatan bagi warga kampung yang miskin.
Sebenarnya pendirian sekolah tersebut lebih dulu daripada pendirian gereja Yohanes Gabriel di Blitar. Pada tahun 1926 di Blitar belum ada gereja. Orang katolik Jawa hanyalah lulusan Muntilan, yaitu Clauidianus Tosin Sindoeperwata, sebagai guru Jawa pertama, disusul Silverius Ismail Hardjodarsono, Wilhelmina Walgitanimah, lulusan Mendut dan Mook. Ikut membantu Martinus Martodiardjo, pengawas sekolah dan katekis serta Martina, istrinya. Mereka didampingi W.J. Jansen dari Nijmegen, Belanda sebagai kepala sekolah, yang sebelumnya bertugas di Belanda, Muntilan, dan Purwokerto. Pada tahun 1927 guru bertambah; Mintarti, R. Sunarja, dan Wies Ludwig. Para guru tersebut tinggal di asrama, sekaligus bertindak sebagai pengasuh.
Baru pada tahun 1931 bertepatan dengan Hari Raya Pantekosta tanggal 24 Mei, diadakan upcara peletakan batu pertama gereja Blitar yang dipersembahkan kepada St. Yusup, oleh Mgr. de Backere. Gereja tersebut terletak di sebelah pastoran, di antara HIS Yohanes Gabriel (sebelah kiri, yang sekarang menjadi SMAK Diponegoro) dan asrama (sebelah kanan, yang sekarang menjadi SMPK Yohanes Gabriel).
Memasuki tahun 1939 umat Katolik di Blitar meraih catatan yang istimewa. Pemeluknya dari kalangan penduduk Eropa berjumlah 476 orang dan penduduk non-Eropa mencapai 496 orang. Sehingga Blitar menjadi satu-satunya wilayah di Prefektur Apostolik Surabaya yang jumlah penganut non-Eropa nya lebih besar daripada pemeluk dari kalangan Eropa.
Seiring perkembangannya HIS mengalami pasang surut sehingga menjadi SMAK Diponegoro pada tahun 1960. Pendirian SMAK Diponegoro di buktikan dengan SK Nomor 0/37/LsB/Ws-60 yang dikeluarkan oleh Yayasan Wijana Sejati Surabaya tertanggal 29 November 1960, surat tersebut ditujukan kepada kepala inspeksi SMA Jakarta yang ditembuskan kepada kepala inspeksi SMA Surabaya. Dalam surat tersebut tercantum 3 formulir pendirian SMA A.B.C Diponegoro di jalan Diponegoro no 44 Blitar, selain itu disertai dengan beberapa nama pengajar serta daftar pengurus SMAK Diponegoro, surat tersebut ditanda tangani oleh R. Kumorowidjoyo selaku ketua Yayasan Wijana Sejati saat itu.
Melalui surat tersebut, dijelaskan bahwa SMAK Diponegoro di dirikan di Jalan Diponegoro no 44 blitar, wilayah karesidenan Kediri, propinsi Jawa Timur. Selain itu surat tersebut juga menjelaskan tanggal mulainya beroperasi SMAK Diponegoro yaitu tanggal 18 Agustus 1960. Dijelaskan bahwa nama pertama dari SMAK Diponegoro adalah SMA Diponegoro Bag A -B-C, surat tersebut juga mencantumkan tentang bahasa pengantar yang hendak dipakai yaitu bahasa Indonesia serta system pengajaran adalah sistem pengajaran tingkat SMA. Awal pendirian SMA Diponegoro sudah mempunyai dua kelas 1 bagian C dan menurut rencana akan dibuka sampai dengan kelas 3 . Pendirian pertama dari SMA Diponegoro didasarkan keinginan untuk membangun sekolah satu atap karena kesuksesan dari SMPK Yohanes Gabriel yang sangat diterima oleh masyarakat kota Blitar, dengan memakai gedung lama bekas SMPK maka SMAK Diponegoro mulai beroperasi sedangkan SMPK mulai beroperasi di Jalan Diponegoro no 42 Blitar.
Tetapi sejak tahun 1942, keberadaan umat Katolik dan lembaga pendidikannya di Blitar ini mendapat tantangan akibat pendudukan Jepang. Dalam sebuah suratnya kepada Paus di Roma pada 8 Maret 1947, Mgr. Verhoeks mengatakan bahwa pada bulan-bulan pertama pendudukan Jepang di Blitar, gereja umumnya tidak mendapat gangguan yang berarti. Tetapi sekolah-sekolah segera tutup setelah itu. Sementara itu, R.J. Soenardja, seorang guru dan pelaku sejarah di Yayasan Yohanes Gabriel sejak 1927, melaporkan bahwa segera setelah Jepang datang, organisasi-organisasi dibubarkan atau dilumpuhkan. Sekolah-sekolah dari berbagai tingkatan, baik negeri maupun swasta ditutup. Baru pada 1 april 1942 sekolah dasar boleh dibuka, sedang sekolah lanjutan harus tetap ditutup. HIS Yohanes Gabriel sendiri baru bisa dibuka pada 28 Mei 1942 setelah pemimpin Jepang di Kediri mengabulkan ijin R.J. Soenardja, sebagai kepala sekolah, untuk membuka kembali HIS Yohanes Gabriel.
Masa pendudukan Jepang ini benar-benar menjadi masa yang sulit bagi umat Katolik Blitar. Walaupun ijin untuk membuka kembali HIS dikabulkan oleh Jepang, tetapi hal itu tidak berlangsung lama. R.J. Soenardja dalam laporannya menyatakan bahwa meskipun gedung gereja aman, tidak diambil alih Jepang, namun gedung-gedung Misi lainnya termasuk gedung sekolah diambil alih Jepang secara sepihak. Gedung HIS Yohanes Gabriel dipakai sebagai kantor Jawatan Kehutanan. Begitu pula dengan gedung Misi di Jl. Diponegoro dan pastoran yang digunakan untuk asrama pemuda-pemuda Tionghoa yang dilatih menjadi Seinendan dan Kaibodan. (Lap. Inventarisasi ODCB Kota Blitar 2017)
Beroperasinya SMAK Diponegoro diawali dengan munculnya surat izin pendirian dan diikuti oleh struktur sekolah yang sangat rapi jelas. Melalui SK bernomor 63 tertanggal 16 Agustus 1960 Yayasan Wijana Sejati dengan kepala Yayasan ketikaitu adalah R. Kumorowidjojo serta Dwijosoesastro sebagai sekertaris menerangkan bahwa telah ada penunjukkan kepada Bapak Abu Justijono sebagai kepala sekolah dan Bapak Subagijo sebagai wakil kepala sekolah, surat tersebut di tanda tangani oleh Bapak Abu Justijono serta ketua Yayasan Wijana Sejati Bapak R. Kumorowidjojo tertanggal 20 Oktober 1960 di Blitar dan di ketahui oleh notaris yang berada di Surabaya. Sekolah SMAK Diponegoro awal beroperasinya ditandai dengan adanya 2 kelas yang telah berjalan dan ada 5 guru mata pelajaran serta beberapa karyawan tata usaha untuk memantapkan keberadaaan dari SMAK Diponegoro.
Sebenarnya kemunculan SMAK Diponegoro sangat menggelikan, menggelikan bukan berarti sangat lucu tetapi ada sesuatu yang aneh, keanehan ini sebenarnya dapat kita lihat dari pemilihan nama setelah SMAK, penggunaan kata-kata Diponegoro dirasa sangat aneh karena menurut tradisi nama sekolah katolik lebih banyak memakai nama santo serta santa pelindung dari sekolah tersebut, seperti SMAK St Hendrikus yang merupakan nama tokoh gereja maupun SMAK St Louis dengan santo Louis sebagai salah satu pelindungnya. Hingga sekarang penulis belum menemukan mengapa SMAK mempergunakan nama Diponegoro, ada asumsi bahwa bernama Diponegoro karena SMAK berada dijalan Diponegoro. Tetapi kebenaran pemakaian nama Diponegoro adalah sebuah misteri yang belum terjawab hingga sekarang. Nama Diponegoro diambil dari salah satu nama pahlawan kemerdekaan Indonesia, Diponegoro lebih dikenal dengan nama Pangeran Diponegoro. Ia adalah pejuang di jawa tengah, nama asli beliau adalah Sentot Prawirodirdjo. Pertama kali pemberontakan pangeran diponegoro dimulai pada saat, belanda lancang untuk mencabut pancang-pancang pekarangan lahannya dan melakukan perlawanan terhadap belanda karena telah mengambil sebagian haknya. Pangeran Diponegoro dikenal dengan sosok yang sangat rendah hati dan sangat tegas dalam memimpin pasukannya dalam melakukan perlawanan dengan belanda. Dapat dikatakan bahwa SMAK ingin mencontoh semangat Diponegoro, sangat tegas tak kenal pantang menyerah dan dikenal dengan pahlawan yang rendah hati, semangat inilah menjadi dasar dari pembangunan SMAK Diponegoro. SMAK Diponegoro dikenal dengan ketegasan dalam mendidik siswanya, para pendidik SMAK Diponegoro juga dengan karakter pantang menyerah dalam membangun SMAK Diponegoro serta mendidik muridnya untuk selalu dapat rendah hati dalam kehidupan bermasyarakat sampai sekarang.
3 Poros Perintis SMAK Diponegoro
Kepala Sekolah pertama SMAK Diponegoro adalah Bapak Abu Justijono, pada Tahun 1961 beliau dipanggil untuk ke blitar untuk merintis sebuah SMA katolik yang didanai oleh keuskupan Surabaya, beliau dipanggil oleh Romo Kumorowidjoyo Pr. Bapak Abu Justijono lahir pada tanggal 20 Desember tahun 1936, beliau lahir di Yogyakarta, Bapak Abu Justijono merupakan alumnus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, beliau ditunjuk untuk menjadi kepala sekolah pertama di SMAK Diponegoro Blitar, selain menjadi kepala sekolah, Bapak Abu juga mengajar ekonomi serta tata hukum dan akuntansi. beliau sekarang tinggal di Yogyakarta berserta istri tercinta.
Didalam pelaksanaan tugasnya beliau juga dibantu oleh beberapa guru, salah satunya adalah adalah Bapak Subagjio selaku wakil kepala sekolah. Bapak Subagjo merupakan salah satu alumni dari Universitas Sanata dharma yogykarta, beliau lahir di Purwokerto pada tanggal 1 Maret tahun 1933. Selain menjadi wakil kepala sekolah , beliau juga mengajar sebagai guru bahasa inggris. Dalam prakteknya kepala sekolah dan wakil kepala sekolah selalu dibantu dengan seluruh komponen guru untuk memajukan SMAK Diponegoro, dari sini sudah mulai tampak bahwa kepedulian terhadap sekolah yang hendak didirikan, kepedulian yang merupakan pondasi dari sebuah kebersamaan dalam memajukan pendidikan di kota Blitar. Selain Bapak subagjio ada salah satu tokoh yang merupakan perintis dari SMAK Diponegoro beliau adalah Bapak Pujiono beliau lahir pada tanggal 5 juni 1958 beilau juga merupakan lulusan universitas Sanata Dharma Yogyakarta dalam pengajarannya Bapak puji mengajarkan pelajaran sejarah, selain itu Bapak puji juga mengajarkan PMP (pendidikan moral pancasila) serta antropologi Pada tahun pertama pembukaan SMAK Diponegoro yaitu tahun 1960, ketika itu Bapak abu selaku kepala sekolah diminta untuk menghimpun guru-guru untuk mengajar di SMAK Diponegoro, walhasil Bapak Abu mendatangkan lima guru yang semuannya merupakan lulusan dari Yogyakarta, dari kelima guru yang didatangkan oleh Bapak Abu 4 guru merupakan lulusan dari Universitas Sanata dharma sedangkan 1 guru berasal dari UGM. Bapak Edi merupakan satu-satunya guru yang bukan berasal dari Universitas Sanata dharma, Bapak Edi merupakan lulusan dari UGM dan beliau mengajarkan pelajaran fisika, sedangkan 4 guru yang merupakan lulusan dari Universitas Sanata Dharma adalah Bapak Harsono mengajarkan IPA (ilmu pengetahuan alam), Bapak soebagyo mengajarkan bahasa inggris, Bapak Pujiono mengajarkan sejarah dan Bapak Abu mengajarkan ekonomi.
Dalam pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar masing-masing guru mau tidak mau harus merangakap mata pelajaran lainnya untuk diajarkan, diantaranya Bapak A bu yang merupakan kepala sekolah harus mengajar juga mengajar Tata Hukum dan Akuntansi, Bapak Pujiono mengajarkan antropologi serta PMP, sedangkan Bapak Harsono dan Bapak Edi mengajar matematika. Jika dirata-rata setiap guru mengajarkan 3 mata pelajaran, disamping kelima guru dari jogja, perekrutan yang dilakukan oleh Bapak Abu tidak berhenti dari wilayah jogja saja tetapi juga direkrut dari wilayah Blitar diantaranya tenaga guru yang berasal dari sekolah negeri Bapak Partono mengajarkan Olah raga, Bapak Juwadi mengajarkan biologi, Bapak suwito mengajarkan matematika serta ilmu ukur dan Bapak R.Y soenardjo sebagai tokoh katolik Blitar waktu itu. Pada tahun kedua SMAK Diponegoro mulai mengalami peningkatan dan semakin diminati oleh masyarakat kota Blitar imbasnya adalah murid di SMAK Diponegoro semakin bertambah banyak, secara singkat pada tahun ketiga ternyata jumlah murid mengalami peningkatan yang sangat signifikan sehingga mau tidak mau banyak sekali murid yang ditolak karen a kuota ruangan sekolah tidak mencukupi. Hal tersebut juga di tunjukkan ketika ada salah satu orang tua murid memohon untuk agar anaknya dapat bersekolah di SMAK Diponegoro dan berkata akan membawa kursi sendiri dari rumah. Keberadaaan SMAK Diponegoro oleh masyarakat Blitar ditanggapi dengan sangat antusias, hal ini didasari dengan system pembelajaran SMAK Diponegoro yang terkenal dengan kedisiplinannya dalam mendidik murid. Sistem pendidikan yang diterapkan juga sangat beragam sehingga membuat SMAK Diponegoro menjadi sekolah yang benar-benar diperhitungkan oleh masyarakat kota Blitar. SMAK Diponegoro merupakan lembaga pendidikan dalam pelaksanaanya juga menjalin hubungan baik dengan beberapa sekolah swasta maupun negeri di kota Blitar, apalagi hubungan anta ra SMAK Diponegoro dengan SMAN 1 Blitar dikatakan juga sangat baik. Hubungan yang dibangun inilah yang membawa SMAK menjadi sekolah yang benar-benar menghargai sekolah lain dan secara tidak langsung telah membawa perubahan pendidikan di kota Blitar menjadi semakin kaya, hal ini dikarenakan hubungan yang terjalin dengan baik ini dapat membawa sebuah hubungan baru bahwa pendidikan bukanlah hanya sebatas persaingan mencari murid tetapi lebih kepedulian dalam membangun pendidikan di kota Blitar secara luas. Perkembangan SMAK Diponegoro juga banyak dipengaruhi oleh persaingan politik yang saat itu sedang memanas, apalagi pada tahun 1961 militer menguasai sistem birokrasi pemerintah ditambah situasi politik di Indonesia saat itu memang sedang mengalami ketegan gan yang sangat luar biasa. Peristiwa tersebut berdampak kepada pendidikan salah satunya adalah iulai dengan kemunculan beberapa lomba anatar lain gerak jalan maupun drumband. Persaingan ini membuat hubungan antar sekolah di Kota blitar mengalami sedikit kerenggangan, tetapi SMAK Diponegoro tetap mempertahannkan hubungan baik dengan beberapa sekolah seperti SMAN 1 hal ini didasari karena kepala sekolah SMA 1 waktu itu sama-sama berasal dari Yogyakarta yang merupakan tempat asal dari Bapak Abu. Kekuatan partai politik pada tahun 1960an memang sangat kuat sehingga lama-kelamaan unsur kepartaian mulai menjalar dalam dunia pendidikan, banyak guru-guru beraliansi menjadi anggota partai poitik. Pengaruh dari aliansi guru-guru untuk menjadi anggota partai poltik membuat kondisi internal dari SMAK Diponegoro menjadi sedikit kacau, tetapi hal itu langsung ditindak tegas oleh Bapak abu selaku kepala sekolah SMAK, beliau berupaya untuk tetap menjaga kondisi di dalam internal sekolah tetap stabil, seiring berembangnya waktu SMAK Diponegoro semakin berkembang dan lama kelamaan muncul upaya-upaya untuk meghambat kemajuan SMAK Diponegoro, salah satu partai yang disebut paling ekstrim dalam menghambat perkembangan SMAK Diponegoro adalah PKI (Partai Komunis Indonesia). Pada Tahun 1964 politik telah memasuki semua lembaga terkecuali pendidikan, hubungan sesama guru mulai mengalami kerenggangan di tubuh SMAK Diponegoro, hal ini telah di ketahui oleh Bapak Abu dan tindakan yang beliau ambil adalah mendekati berbagai partai polit ik yan ada dan menjaga hubungan baik dengan mereka, tetapi hanya satu partai politik yang tidak didekati oleh Bapak Abu partai itu adalah Masyumi. Selain menjaga hubungan baik dengan partai politik Bapak abu juga menjaga hubungan baik dengan orang kejaksaan yang saat itu masih dianggap oleh beliau masih pancasilais. Pada tahun keempat berjalannya SMAK Diponegoro ditandai dengan hal yang tidak mengenakan bagi Bapak Abu, yaitu didongkelnya beliau dari SMAK Diponegoro karena sudah tidak sejalan dengan yayasan dan beliau tidak berhenti begitu saja, beliau mendirikan SMA Gajah Mada di Taman Dewasa(sekarang taman siswa) dan pada tahun 1965 Bapak Abu pulang kekampung halamannya Yogyakarta dan mengajar di stella duce, De Britodebrito dan Atmajaya. Itulah perjalanan berdirinya SMAK Diponegoro Blitar, banyak hal yang bisa kita temukan dalam cerita singkat ini, sebuah cerita yang sangat singkat tetapi banyak makna bahwa pendidikan haruslah dipertahankan dan harus terus dikembangkan, pendidikan bukanlah tempat untuk mencari materi maupun kedudukan tetapi pendidikan adalah tempat orang untuk mengenyam ilmu pengetahuan. Semoga prinsip ini tetap di pegang oleh keluarga besar SMAK Diponegoro sehingga tetap sekolah ini tetap berdiri kokoh dan tetap memegang prinsip kekeluargaan.

Pada tanggal 06 September 1960, ditetapkan sebagai tanggal Dies Natalis SMAK Diponegoro Blitar.
SMAK Diponegoro Blitar pada tahun :

  • 1960-1963 dipimpin oleh Bapak JB. Abu Justijon
  • 1963-1974 dipimpin oleh Bapak Drs. AJ.Soejoko Soemodihardjo
  • 1975-1976 dipimpin oleh Bapak Drs. FA. Soewandhi
  • 1976-1989 dipimpin oleh Bapak R. Wiwoho, BA
  • 1989-1996 dipimpin oleh Bapak L Soekardi, BA
  • 1996-1999 dipimpin oleh Bapak Drs. Rafael Gidjo S.,
  • 1999-2010 dipimpin oleh Bapak Ign. Teguh Suhartono, BA,
  • 2010-2015 dipimpin oleh Bapak Antonius Hada Beoang, S.Pd.,
    1. dibantu oleh 4 waka yaitu :

        1. Waka Sarana dijabat oleh :

          a. Prasetijoko Utomo, S.Pd. (2010 – 2012)
          b. Drs. Eko Hariyanto, S.Pd. (2012 – 2015)
        2. Waka Kesiswaan dijabat oleh :

          a. Drs. Eko Hariyanto, S.Pd. (2010 – 2012)
          b. Dra. MM Massa Mieke, M.Pd. (2012 – 2015)
        3. Waka Humas dijabat oleh M. Eko Sunu, S.Th. (2010 – 2015)
        4. Waka Kurikulum dijabat oleh :

          a. Drs. Yohanis Sadik (2010 – 2014)
          b. Eko Istanto, S.Pd.,S.Kom. (2015)
    2. 2015-sekarang (2018) dipimpin oleh Ibu Dra. MM Massa Mieke, M.Pd.
      1. dibantu oleh 4 waka yaitu :

      2. Waka Sarana dijabat oleh : Drs. Eko Hariyanto, S.Pd. (2015 – 2016)
      3. Waka Kesiswaan dijabat oleh :Antonius Hada Beoang, S.Pd. (2015 – 2016)
      4. Waka Humas dijabat oleh M. Eko Sunu, S.Th. (2015 – 2016)
      5. Waka Kurikulum dijabat oleh : Eko Istanto, S.Pd.,S.Kom. (2015 – 2016)
        1. Mulai tahun 2016 ada perampingan waka yaitu:

        2. Waka Kesiswaan dan Humas dijabat oleh Agnes Ani Widiyanti, S.Pd. dibantu oleh : Drs. Eko Hariyanto, S.Pd. untuk Staf Humas (2016-2018)
        3. Waka Kurikulum dan Sarana dijabat oleh Mega Florentina, S.Pd., dibantu oleh : Antonius Andi Supriyanto, S.Pd. untuk Staf Sarana (2016 – 2018), Prajudhi Harko Sutoto, S.Si. untuk Staf Kurikulum bagian penyusunan jadwal dan pembagian tugas guru (2016-2018), Eko Istanto, S.Pd.,S.Kom. untuk Staf Kurikulum bagian penilaian (2016-2018)

        Berikut foto-foto beliau.


    Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

    Anda ingin sekolah dengan segudang prestasi, kreasi dan berpengalaman …. SMAK Diponegoro Blitar lah sekolahnya…Dan Ayooo Segera bergabung di SMAK Diponegoro Blitar

    1 tanggapan pada “Sejarah SMAK Diponegoro Blitar”

    1. Saya merasa senang bisa mengetahui sejarah smak diponegoro Blitar…terima kasih pak eko sudah mengulas sejarah smak

    Komentar ditutup.