Cerpen: Lika-liku Meraih Mimpi

Aku menghela nafas dan langsung menuju kulkas, aku mengambil, daging ayam dan beberapa bumbu, lalu dengan tergesa aku memasak ayam kecap untuk sarapanku. Setelah sarapan aku naik ke kamarku untuk berganti pakaian. Setelah rapi, aku segera menyambar tas ranselku dan berangkat ke sekolah, kebetulan bis sekolah ku sudah menunggu di halte depan, aku pun segera naik dan duduk di bangku bis. 15 menit berlalu akhirnya aku sampai di sekolah, dari kejauhan aku melihat Intan sahabatku sudah menunggu di lobi sekolah, (Oh iya aku bersekolah di sekolah khusus perempuan St Anna High School) .Ketika melihat Intan aku segera berlari menghampiri Intan. “Hai, kenapa kok keliatan senang banget” tanyaku, “Gini loh Ris, sekolah kita mengadakan seleksi menyanyi, dan kalau lolos, akan dikirim ke kompetisi menyanyi Internasional, kamu tertarik?” Balas Intan bersemangat, “Apa? Internasional?? Mau ntan aku mau ikut, ini kan impianku” Jawabku, “Tapi Ris, aku tidak yakin kalau ayahmu bakal setuju, soalnya ini butuh surat persetujuan dari orang tua” kata Intan, “Hmm gimana ya, Aha! Aku punya ide, ayo ikut aku” ajakku. Kami pun berlari menyusuri lorong lalu naik ke tangga dan sampai lah kami di kelas. “Begini loh ntan, aku akan membuat Ayahku menandatangani surat itu tapi tanpa sepengetahuan nya kalau itu akan mengirimkan ku ke kompetisi Internasional kelak” Kataku bersemangat, “Apa? Gila kamu ya” balas Intan “Udahlah, kumohon rahasia kan ini ya, kan kamu tahu kalau ini mimpiku yang terpendam selama ini” Ucapku memelas, “Hmm oke, tapi ayo ke kantin dulu, belikan aku Bakso kuah sebagai upah tutup mulut hahaha” Gurau Intan, “Ahh gampang itu, nanti istirahat saja ya” Balasku sambil menjentikkan jari.

Di tengah pelajaran tiba-tiba ada bel menandakan akan ada pengumuman. “Ting…Tongg… Pengumuman ditujukan untuk seluruh siswa bahwa sekolah kita St.Anna High School akan mengadakan seleksi tarik suara untuk dikirim ke Internasional Music Competition, maka kami memanggil beberapa siswa yang berbakat di bidang tarik suara untuk segera berkumpul di Ruang Kesenian pada jam ini, yang pertama Isabelle Muncen, Alexandra Viona, Regina Intan, Claudia Sheila, Michella Vini, Christina Cassy, dan Katarina Risa, nama-nama yang saya sebut sekali lagi silahkan menuju Ruang Kesenian sekarang” Aku pun langsung meloncat dari bangku ku dan mengajak Intan untuk segera menuju Ruang Kesenian, aku sangat bersemangat sampai aku hampir terpeleset di depan pintu yang menimbulkan gelak tawa satu kelas. Sesampainya di Ruang Kesenian, Bu Renata langsung mengumumkan tata cara proses seleksi yang akan dilaksanakan saat ini juga, dan bila lolos seleksi akan dikirim ke Sekolah Musik Mozart Academy di Prancis untuk mendapatkan pelatihan khusus sebelum kompetisi berlangsung. Tak berapa lama giliranku untuk menyanyi tiba, aku menyanyikan lagu berjudul Listen karya penyanyi favorit ku. Setelah Musik intro dimainkan aku pun menyanyi kan lagu itu dengan lembut namun bersemangat, setelah selesai, giliran Intan yang bernyanyi, Intan menyanyikan lagu Fly me to the moon, Ia sangat antusias menyanyikannya, setelah Intan tampil, riuh tepuk tangan memenuhi seisi ruangan karena saat yang ditunggu hampir tiba yaitu pengumuman kelolosan seleksi. “Baiklah setelah berdebat dengan para juri, saya akan memutuskan 3 nama yang lolos seleksi, mereka adalah, Regina Intan, Michella Vini, dan yang terakhir adalah Katarina Risa” Aku pun tersentak kaget mendengar namaku disebutkan Bu Renata dan tak kalah terkejut ketika aku melihat Intan lolos dalam seleksi ini bersamaku, Aku, Intan, dan Vini pun berpelukan haru karena impian kami akhirnya terwujud. Setelah pengumuman, Bu Renata membagikan surat persetujuan orang tua untuk diisi dan ditandatangani orang tua, aku pun menerima nya dan langsung menuju kantor Ayahku bersama Intan, karena kami mendapat dispensasi pulang lebih awal untuk latihan, sesampainya di depan kantor Ayahku, aku bertemu dengan Tante Via sekretaris ayahku, aku pun memberikan surat pernyataan kepadanya dan aku meminta supaya dia mengisi nya lalu menyelipkan ke dokumen penting ayahku, supaya ayahku menandatangani nya, lalu aku bisa berangkat ke Prancis mewujudkan impianku. Aku merasa sangat bersemangat dan cemas karena aku takut ayahku mengetahui yang sebenarnya, tapi aku tetap bersabar dan berdoa supaya rencanaku berhasil dan Tante Via berhasil mendapatkan tanda tangan ayahku. 10 menit berlalu Tante Via tak kunjung kembali, aku pun cemas, namun Intan menenangkan ku dan mengajak ku minum kopi di kafe seberang kantor, aku pun mengiyakan kemauannya. Setelah 5 menit ngopi dan mengobrol, Tante Via keluar bersama ayahku, aku pun sangat takut kukira Ayahku mengetahui yang sebenarnya dan sedang mencariku, lalu Tante Via melihatku dan Intan di kafe, lalu menghampiriku, aku pun bertanya apa yang terjadi sampai Ayahku keluar kantor bersamanya, lalu Tante Via menjawab bahwa ayahnya hendak pergi ke kafe ini namun Tante Via mencegah nya dengan alasan banyak dokumen yang belum ditandatangani, padahal Tante Via sedari tadi sudah mengetahui keberadaan ku, aku pun menghela nafas lega setelah mengetahui Tante Via berhasil mengelabuhi Ayahku dan mendapat tanda tangan nya, aku segera berterimakasih dan pergi ke rumah Intan lalu kembali ke sekolah untuk mengumpulkan surat pernyataan.

3 tanggapan pada “Cerpen: Lika-liku Meraih Mimpi”

  1. Hebat kamu Carolina
    Bermimpilah setinggi langit
    agar hidupmu penuh warna
    Mimpi ituharus diwujudkan
    untuk mewujudkan mimpi tidak semudah membalik telapak tangan
    Orqng sukses itu karena mimpi
    Perjuangan dan doa untuk mewujudkan mimpi harus sejalan dan berimbang
    Proses menggapai mimpi tak akan mengkhianati hasil

  2. Alurnya sudah runtut, meskipun ada beberapa diksi dan pemenggalan kalimat yang kurang pas, tapi ceritanya sudah menarik dan mudah dipetik pesannya. Semangatt!

Tinggalkan Balasan