Cerpen: Lika-liku Meraih Mimpi

Keesokan hari nya, aku masih mendapat dispensasi untuk latihan, tapi aku terpaksa berbohong pada ayahku supaya diijinkan pergi, aku berkata kalau aku ada tambahan pelajaran untuk ujian minggu depan. Setelah mendapat ijin, aku pergi menjemput Intan dengan mobilku lalu pergi ke studio musik langganan Intan yaitu Max Coffee and music. Sesampainya disana aku berlatih menyanyi kan lagu klasik yang memiliki nada sulit dan memiliki durasi yang sedikit panjang.

Setelah latihan berbulan-bulan, Aku, Intan, dan Vini berangkat menuju Prancis untuk mempelajari ilmu musik yang akan dilombakan 3 minggu lagi. Aku bisa bebas pergi karena Ayahku ada perjalanan bisnis ke Singapura. Perjalanan menuju Prancis menempuh kira-kira 13 jam lamanya, karena itu aku dan Vini tertidur sedangkan Intan masih terjaga sambil membaca novel. Tak beberapa lama pesawat pun mendarat di Roissy Airport Paris, aku pun segera membangun kan Vini dan mengepak koper untuk dibawa keluar, sesampainya di

Bandara kami langsung dijemput oleh guide sekaligus guru di Mozart Academy , Mrs Donna, Mrs. Irene, dan Mrs. Laurene, kami langsung diantar menuju lobi bandara dan ternyata mereka sudah memesankan taksi untuk kami, kami pun langsung naik dan menuju Mozart Academy, di perjalanan aku melihat pucuk dari menara Eiffel yang terkenal, aku pun terharu karena selama ini aku hanya berangan-angan untuk ke Paris, dan akhirnya angan-angan ku terwujud bersama dengan mimpiku yang selama ini terpendam dibalik tangan besi ayahku. Setelah 1 jam perjalanan, kami pun tiba di Mozart Academy, kami pun sangat bersemangat lalu kami cepatcepat menurunkan bawaan kami, lalu kami disambut oleh kepala sekolah Mozart Academy, Mrs. Carene, kami disambut ramah lalu kami ditunjukkan oleh masing-masing guide kami sekaligus guru kami menuju kamar asrama, aku diantar oleh Mrs. Irene menuju kamar A4, aku sekamar dengan Intan sedangkan Vini sekamar dengan kontestan asal Thailand, Mee Ra.

Di sini kami dilatih dengan keras supaya membuahkan hasil yang baik, kami dilatih selama kurang lebih 2 minggu 3 hari. Setelah latihan selesai kami beristirahat karena besok adalah hari kompetisi.

Keesokan harinya kami memakai seragam identitas St. Anna (Atasan berwarna biru tua, dan bawahan rok abu-abu) untuk berlomba, lomba diadakan di hall Mozart Academy. Tak disangka ketika pengambilan nomor peserta, Aku, Intan, dan Vini mendapat nomor urut yakni 4,5,6.

3 tanggapan pada “Cerpen: Lika-liku Meraih Mimpi”

  1. Hebat kamu Carolina
    Bermimpilah setinggi langit
    agar hidupmu penuh warna
    Mimpi ituharus diwujudkan
    untuk mewujudkan mimpi tidak semudah membalik telapak tangan
    Orqng sukses itu karena mimpi
    Perjuangan dan doa untuk mewujudkan mimpi harus sejalan dan berimbang
    Proses menggapai mimpi tak akan mengkhianati hasil

  2. Alurnya sudah runtut, meskipun ada beberapa diksi dan pemenggalan kalimat yang kurang pas, tapi ceritanya sudah menarik dan mudah dipetik pesannya. Semangatt!

Tinggalkan Balasan