Karya Tulis Ilmiah

  PENDIDIKAN KEPRAMUKAAN SEBAGAI UPAYA MENANAMKAN MENTAL PEMBANGUNAN UNTUK MENGENTASKAN PROBLEMA KEMISKINAN DI INDONESIA

Manuela Rahel Tamaela[1]

Gugus Depan Kota Blitar 03.117-03.118, Kwarcab Kota Blitar,

Kwarda Jawa Timur

E-mail : raheltammm@gmail.com

1. PENDAHULUAN:          

            Kemiskinan menjadi salah satu masalah terbesar yang dihadapi oleh negara berkembang dan paling menjadi perhatian dunia khususnya Indonesia. Menurut Suparlan dalam Purwanto: 2016, mengatakan bahwa kemiskinan adalah suatu standar tingkat hidup yang rendah pada sejumlah orang dan secara langsung nampak pengaruhnya terhadap tingkat keadaan kesehatan, kehidupan moral dan rasa harga diri mereka yang tergolong sebagai orang miskin.[2] Sedangkan Prof. Dr. Mubyarto selaku pakar ekonomi kerakyatan Indonesia mengatakan kemiskinan ialah suatu kondisi rendahnya pendapatan ekonomi masyarakat, yang menyebabkan taraf kehidupan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat menurun.[3]

            Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa rendahnya standar tingkat hidup dan rendahnya pendapatan ekonomi seseorang sangat memengaruhi tingkat kesehatan, kualitas pendidikan, serta kehidupan moralnya. Sehingga mereka kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya seperti kebutuhan pangan dan sandang.

2. PEMBAHASAN:

            Pada tahun 2019 Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka kemiskinan di Indonesia telah mencapai 24,97 juta jiwa dan angka ini akan terus bertambah jika tidak ada penanganan khusus dari pemerintah maupun dari diri kita[4]. Selain itu, terdapat 2 ciri terjadinya kemiskinan antara lain:

1) Sulit memenuhi kebutuhan primer. Bagi seseorang yang tidak dapat memenuhi kebutuhan tersebut dapat dikatakan sebagai salah satu kategori masyarakat miskin.

2) Sulit mengelola Sumber Daya Alam (SDA) karena minimnya Sumber Daya Manusia (SDM).

            Sebagian besar masyarakat miskin akan kesulitan mengelola Sumber Daya Alam dengan baik. Hal ini didasari karena masyarakat kurang bisa memberikan kontribusi dalam berbagai sisi kehidupannya, terutama dalam menciptakan SDM yang berkompeten.[5] Lalu faktor apa saja yang mendasari terjadinya kemiskinan?

            Kemiskinan terjadi karena beberapa faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor penyebab kemiskinan yang potensinya berasal dari diri seseorang atau keluarga serta lingkungan sekitar. Salah satu contohnya, seseorang yang masih sehat jasmani enggan untuk bekerja karena tidak punya kepercayaan diri dan malas sehingga menggantungkan hidupnya pada orang lain. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berhubungan dengan kebijakan pemerintah atau situasi lain yang berpotensi membuat seseorang jatuh miskin seperti kekurangan bahan pokok, dampak bencana alam, terjadi peperangan ataupun kondisi lingkungan yang kurang baik.[6] Faktanya, lingkungan yang buruk dapat memberikan pengaruh yang buruk juga terhadap hidup maupun pola pikir kita. Contohnya, seseorang yang berada di satu lingkungan dengan orang malas pasti lambat laun akan menjadi malas pula. Maka itu, sangat penting bagi kita khususnya anak – anak muda untuk memilih lingkungan yang memberikan pengaruh positif bagi kehidupan kita.

            Berdasarkan faktor – faktor di atas, perlu kita ketahui bahwa yang menjadi masalah utama terjadinya kemiskinan di Indonesia adalah sulitnya masyarakat dalam meningkatkan kualitas hidupnya melalui pendidikan. Tidak dapat dipungkiri masih banyak anak – anak dari keluarga kurang mampu yang belum mendapat pendidikan atau bahkan tidak mendapat sama sekali. Menurut data Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), jumlah anak usia 7 – 12 tahun di Indonesia yang tidak bersekolah berada di angka 1.228.792 anak. Untuk kategori usia 13 – 15 tahun jumlahnya mencapai 936.674 anak. Sementara usia 16 – 18 tahun, ada 2.420.866 anak yang tidak bersekolah. Padahal, pemerintah sudah mengupayakan banyak kebijakan serta bantuan untuk memudahkan serta menjamin anak – anak usia sekolah dari keluarga kurang mampu untuk dapat bersekolah dengan gratis. Tetapi, sebagian besar dari mereka berpikir bahwa sekolah itu memerlukan buku, seragam, dan lainnya sehingga tetap mengeluarkan uang banyak. Jadi daripada untuk sekolah anak, uang bantuan dari pemerintah mereka gunakan untuk keperluan saat itu seperti membeli persediaan makanan untuk beberapa hari ke depan. [7]

            Mengapa masyarakat miskin relatif memiliki pola pikir jangka pendek? Hal ini disebabkan karena sebagian besar dari mereka juga tidak mendapat pendidikan dasar sejak dini. Sehingga mereka akan menerapkan hal yang sama untuk anak – anak mereka untuk lebih baik bekerja daripada bersekolah. Maka itu kita perlu memahami betapa pentingnya pendidikan dasar bagi anak – anak di usia dini. Seperti lirik di dalam lagu “Wajib Belajar” ciptaan Bapak Restu Narwan Sutarnas yang berbunyi “Tekunlah belajar giatlah bekerja. Berantas kebodohan perangi kemiskinan. Habis gelap tertib terang, hari depan cerlang”. Dari lirik tersebut dapat kita petik maknanya bahwa pendidikan merupakan kunci dari pembentukan mental, karakter, serta pola pikir anak untuk dapat memerangi kemiskinan agar terciptanya masa depan yang cemerlang.[8] Ki Hadjar Dewantara selaku tokoh pendidikan Indonesia juga mengatakan, mendidik anak berarti mempersiapkan masa depan anak untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik, demikian pula dengan mendidik masyarakat berarti juga mendidik bangsa (Dewantara I, 2004). Semakin banyak anak – anak yang tidak bersekolah, maka akan semakin rendah pula karakter serta pola pikirnya dan tingkat kemerosotan moral pun juga akan meningkat.[9] Dalam hal ini sama saja seperti membakar negeri sendiri.

            Untuk itu, kita sebagai Pramuka tunas muda harapan bangsa, yang sudah menerima pendidikan sejak dini, haruslah memiliki karakter dan pola pikir yang cerdas sebagai sumber kekuatan kita dalam memerangi kemiskinan di Indonesia. Sebelum membahas lebih lanjut, seorang Pramuka harus membuat perubahan – perubahan sederhana untuk dirinya  sendiri. Dengan begitu, tidak hanya kita yang akan terhindar dari kemiskinan tetapi orang lain pun juga akan terpengaruhi oleh perubahan positif kita. Berikut 5 (lima) nilai yang harus dilakukan oleh seorang Pramuka untuk mengurangi kemiskinan di Indonesia antara lain:

1) Hemat, cermat, serta jujur; 

2) Mengenali bakat dan minat; 

3) Produktif; 

4) Memimpin;  

5) Berbahasa asing.

2.1 Hemat, cermat, serta jujur

            Seorang Pramuka hendaknya tahu cara mengelola uang maupun harta miliknya agar tidak habis sia-sia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hemat artinya berhati-hati dalam membelanjakan uang dan tidak boros.[10] Manfaat berhemat tidak hanya kita rasakan dalam jangka waktu dekat, tetapi berhemat akan membawa dampak yang besar untuk jalan pembuka kecukupan finansial kita di masa depan. Dengan berhemat, kita tidak akan mengalami kondisi pengeluaran lebih besar daripada pendapatan. Maksudnya, sering kali kita membeli sesuatu yang harganya melebihi jumlah pendapatan kita yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Kebiasaan – kebiasaan seperti inilah yang harus kita ubah. Maka dari itu, selain berhemat kita juga harus cermat dalam mengambil suatu tindakan.

            Cermat akan membiasakan diri kita untuk selalu teliti dalam berpikir maupun bersikap. Selain dua hal itu, kita juga harus menerapkan kebiasaan  jujur. Jujur akan membiasakan kita untuk hidup tulus, tidak mengatakan hal bohong, dan berbicara sesuai fakta. Seperti yang tercantum dalam Dasa Dharma Pramuka butir ke-7 yaitu “Hemat, cermat, dan bersahaja”. Seorang Pramuka di tuntut untuk selalu hidup dengan hemat, cermat, serta bersahaja agar tidak mengalami kesulitan di masa depan.  Selain itu, kita harus membiasakan diri untuk selalu jujur karena kejujuran sangat diutamakan dalam hidup. Sekalipun kita pandai berhemat tapi tidak jujur, maka sama saja seperti berniaga di ujung lidah.  

2.2 Mengenali Bakat dan Minat

            Bakat merupakan segala faktor yang melekat pada individu sejak lahir yang bersifat potensial yaitu dapat tumbuh dan berkembang secara lebih besar lagi (Kartono Kartini : 1979). Bakat dipercaya sebagai hal yang paling disenangi dan ditekuni oleh manusia karena dapat membantu meningkatkan kepercayaan diri mereka.[11] Meskipun, jika tidak di asah dengan baik maka akan kesulitan untuk memanfaatkannya. Ada banyak cara bagi Pramuka untuk mengenali bakat dan minat, salah satunya yaitu dengan mengikuti kegiatan di luar Gudep seperti Satuan Karya Pramuka atau biasa disebut SAKA. Sesuai dengan Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor : 170 A Bab II Tahun 2008 Tentang Petunjuk Penyelenggaraan Satuan Karya Pramuka, SAKA merupakan wadah pendidikan dan pembinaan guna menyalurkan minat, mengembangkan bakat dan menambah pengalaman para Pramuka Penegak dan Pandega dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta keterampilan.[12]

            Secara nasional SAKA diberi nama sesuai dengan bidangnya, misalnya SAKA Bahari untuk bidang Kebaharian, SAKA Bakti Husada untuk bidang Kesehatan, SAKA Bhayangkara untuk bidang Kebhayangkaraan, SAKA Dirgantara untuk bidang Kedirgantaraan, SAKA Kencana untuk bidang Kependudukan dan Keluarga Berencana, dan SAKA Taruna Bumi untuk bidang Pertanian. Di antara banyaknya SAKA di atas, kita dapat memilih salah satu SAKA yang sesuai dengan bakat minat kita dan bergabung menjadi anggotanya. Tidak hanya itu, seorang Pramuka dapat pindah dari satu bidang SAKA ke bidang SAKA lainnya apabila telah mendapatkan 3 (tiga) buah Tanda Kecakapan Khusus (TKK) dan sedikitnya telah berlatih selama 6 (enam) bulan pada SAKA tersebut. Dengan mengikuti SAKA, kita mendapatkan banyak ilmu serta pengalaman yang sebagian tidak kita dapatkan di sekolah.  Selain itu, setiap SAKA memiliki ciri khas konsep pelatihan yang berbeda tapi juga seru sehingga banyak diminati oleh anggota Pramuka untuk menyalurkan bakat dan minat mereka.

2.3 Produktif

            Satu hal yang menjadi aspek penting bagi generasi muda saat ini ialah sebagian besar anak – anak muda beranggapan bahwa kita harus menciptakan suatu mahakarya untuk menjadi produktif. Padahal, menjadi manusia yang produktif bisa dilakukan kapan dan di mana saja di lingkungan sekitar kita seperti rumah. Di rumah kita bisa melakukan banyak hal positif yang bermanfaat bagi diri kita maupun bagi orang lain. Makna manusia produktif itu sendiri adalah manusia yang memanfaatkan segala potensi yang ia punya.[13]

            Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membiasakan hidup produktif, misalnya dengan membaca buku, menerapkan pola hidup sehat dengan berolahraga selama sekitar 10 menit setiap pagi, berkebun, mengikuti seminar online, membuat karya ilmiah atau essay, dan masih banyak kegiatan seru lainnya. Sangat mudah bagi seorang Pramuka untuk mengisi hari dengan hal-hal yang positif, karena segala aspek kecakapan dan kemahiran telah terangkum di dalam Syarat Kecakapan Umum (SKU) dan Syarat Kecakapan Khusus (SKK) yang sudah kita tempuh.

2.4 Menjadi Pemimpin

            Yang menjadi masalah bagi sebagian besar generasi muda khususnya Pramuka adalah kurangnya rasa kepercayaan diri untuk menjadi seorang pemimpin. Padahal, saat ini Indonesia sangat membutuhkan cikal – cikal pemimpin yang diharapkan bisa membangun Indonesia lebih baik lagi di masa depan. Banyak manfaat yang kita dapat dengan menjadi seorang pemimpin, yaitu melatih kedisiplinan diri, meningkatkan kemampuan public speaking atau berbicara di depan umum, membangun relasi yang baik dengan orang lain, belajar membuat keputusan serta berani mengambil risiko.[14]  Tetapi sebelum itu, untuk menjadi seorang Pramuka yang dapat memimpin dengan baik, pertama – tama kita harus menjadi teladan bagi anggota kita maupun orang lain.

            Menurut Lim Wei Yung selaku Ketua Dewan Kerja Asia – Pasifik dalam pembahasannya pada Bincang Penegak Pandega Produktif yang diselenggarakan oleh DKC Gerakan Pramuka Sumenep beberapa waktu lalu, ada 4 (empat) tugas yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin. 1) Seorang pemimpin harus mampu mengamati situasi serta memiliki semangat positif yang baik dan mengembangkannya. 2) Seorang pemimpin perlu menularkan semangat positifnya dan selalu menciptakan kegembiraan untuk para anggotanya. 3) Selalu membangun komunikasi yang baik dengan anggota dan melakukan sesuai dengan yang dikatakan. 4) Mampu memiliki tujuan akhir pengembangan dan pendidikan menjadi dasar pemikiran. Dalam melaksanakan tugas – tugas tersebut, kita bisa melakukannya dari langkah yang terkecil yaitu seperti menjadi ketua kelas di sekolah, menjadi ketua sangga kerja, menjadi ketua kelompok saat melaksanakan tugas di sekolah, mengikuti suatu organisasi atau sejenisnya, dan masih banyak lagi. Jika kita mau mencoba hal – hal baru, pasti kita akan memetik hasilnya di masa depan.

2.5 Berbahasa Asing

            Di era globalisasiini, dunia global menjadikan bahasa asing sebagai salah satu hal yang utama dalam kepentingan dunia kerja maupun untuk berkomunikasi. Tidak heran jika generasi muda dituntut untuk menguasai minimal satu bahasa asing, terlebih bahasa Inggris. Mengapa? Karena bahasa Inggris merupakan bahasa Internasional yang artinya telah digunakan oleh seluruh orang di dunia.[15]

            Bayangkan jika kita hanya menguasai satu bahasa yaitu bahasa Indonesia, tentu jangkauan dunia pekerjaan kita hanya sebatas lingkup Indonesia saja, dan itu akan menghambat kualitas Sumber Daya Manusia kita. Tidak hanya itu, hal tersebut berlaku juga untuk bahasa asing negara lainnya. Jika kita mampu menguasai bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional, cobalah untuk menambah satu kemampuan berbahasa lagi, seperti bahasa Korea, bahasa Jepang, Mandarin, Rusia, dan lain sebagainya. Dengan kemampuan berbahasa kita dapat melihat dunia yang lebih luas serta meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia kita.

3. SIMPULAN

            Seorang Pramuka harus meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusianya dengan membiasakan hidup hemat, cermat dalam menggunakan uang, serta jujur, mengembangkan bakat dan minat, melakukan kegiatan positif agar tetap produktif, belajar menjadi pemimpin yang baik, dan mengasah kemampuan berbahasa asingnya. Dengan melakukan nilai – nilai tersebut, Pramuka akan terhindar dari kemiskinan dan memberikan contoh nyata pada masyarakat untuk selalu mengutamakan pendidikan. Indonesia akan bebas dari segala permasalahan kemiskinan jika generasi muda mau bergandeng tangan bersatu menciptakan perubahan – perubahan positif pada diri.

DAFTAR PUSTAKA:

ABC. “Partisipasi Pendidikan Naik Tapi Jutaan Anak Indonesia Masih Putus Sekolah.” Tempo.Co, 2019, https://www.tempo.co/abc/4460/partisipasi-pendidikan-naik-tapi-jutaan-anak-indonesia-masih-putus-sekolah.

Amini, Siti Rohmi. “Kuasai Bahasa Asing Untuk Hadapi Persaingan Global.” JAWA POS Radar Kudus, Apr. 2019, https://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/05/129815/kuasai-bahasa-asing-untuk-hadapi-persaingan-global.

Avisena, Muhammad Ilham Ramadhan. “BPS: Angka Kemiskinan Indonesia Turun Jadi 9,22 Persen.” Media Indonesia, 2020, https://m.mediaindonesia.com/read/detail/283554-bps-angka-kemiskinan-indonesia-turun-jadi-922-persen.

Hadiwinata, Amelia. “Menjadi Manusia Yang Produktif.” Kompasiana, 2017, https://www.kompasiana.com/nataamelia/58ee20b274977384357e7b0d/menjadi-manusia-yang-produktif.

John, Dewey. “Pendidikan Dan Kebudayaan Menurut Ki Hadjar Dewantara.” SILABUS.Web.Id, 2019, https://www.silabus.web.id/pendidikan-dan-kebudayaan-menurut-ki-hajar-dewantara/.

KEMDIKBUD, Badan Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V (KBBI V). Kelima, 2019.

Kusuma, Christina. “3 Lagu Pendidikan Yang Penuh Makna.” Solo Event, 2017, http://soloevent.id/3-lagu-pendidikan-yang-penuh-makna/.

Kwatir Nasional Gerakan Pramuka. Petunjuk Penyelenggaraan Satuan Karya Pramuka. NO. 170A, Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, 2008.

Oceannaz. “KEMISKINAN : Pengertian, Dimensi, Indikator Dan Karakteristiknya.” Oceannaz.Wordpress.Com, 2010, https://oceannaz.wordpress.com/2010/07/29/kemiskinan-pengertian-dimensi-indikator-dan-karakteristiknya/.

Pengertianmenurutparaahli.net. “Pengertian Bakat Menurut Para Ahli.” Pengertianmenurutparaahli.Net, 2020, https://www.pengertianmenurutparaahli.net/pengertian-bakat-menurut-para-ahli/.

Purwanto, Adi. “Pengertian Kemiskinan Menurut Para Ahli.” Edugovindonesia, 2016, http://www.edugovindonesia.com/web/index.php/2-uncategorised/25-pengertian-kemiskinan-menurut-para-ahli.html.

Sartika, Erni. “Kemiskinan Semakin Menjamur.” Kompasiana, 2015, https://www.kompasiana.com/www.kompasiana.comernisartika/552b11516ea834d12c552d21/kemiskinan-semakin-menjamur.

Universitas Lampung. “Digilib.Unila.Ac.Id.” Digilib.Unila.Ac.Id, pp. 10–28, https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://digilib.unila.ac.id/4309/15/BAB%2520II.pdf&ved=2ahUKEwj-6rzn6dbpAhXIbSsKHR5jByEQFjAAegQIAhAB&usg=AOvVaw2s-2ZGMsBIapdYGrBjn-Oc. Accessed 15 Feb. 2020.


[1] Pramuka Penegak Garuda Kwarcab Kota Blitar, Anggota Ambalan Arjuna Srikandi SMA Katolik Diponegoro Blitar.

[2] Parsudi Suparlan dalam Adi Purwanto. Pengertian Kemiskinan Menurut Para Ahli. Edugovindonesia.com, http://www.edugovindonesia.com/web/index.php/2-uncategorised/25-pengertian-kemiskinan-menurut-para-ahli.html. 2016.

[3] Mubyarto dalam Adi Purwanto. Pengertian Kemiskinan Menurut Para Ahli. Edugovindonesia.com, http://www.edugovindonesia.com/web/index.php/2-uncategorised/25-pengertian-kemiskinan-menurut-para-ahli.html. 2016.

[4] Muhammad Ilham Ramadhan Avisena. BPS: Angka Kemiskinan Indonesia Turun Jadi 9,22 Persen. Media Indonesia, https://m.mediaindonesia.com/read/detail/283554-bps-angka-kemiskinan-indonesia-turun-jadi-922-persen. 2020.

[5] Oceannaz. KEMISKINAN : Pengertian, Dimensi, Indikator Dan Karakteristiknya. Oceannaz.wordpress.com, https://oceannaz.wordpress.com/2010/07/29/kemiskinan-pengertian-dimensi-indikator-dan-karakteristiknya/. 2010.

[6] Erni Sartika. Kemiskinan Semakin Menjamur. Kompasiana, https://www.kompasiana.com/www.kompasiana.comernisartika/552b11516ea834d12c552d21/kemiskinan-semakin-menjamur. 2015

[7] ABC. Partisipasi Pendidikan Naik Tapi Jutaan Anak Indonesia Masih Putus Sekolah. Tempo.co, https://www.tempo.co/abc/4460/partisipasi-pendidikan-naik-tapi-jutaan-anak-indonesia-masih-putus-sekolah. 2019.

[8] Christina Kusuma. 3 Lagu Pendidikan Yang Penuh Makna. Solo Event, http://soloevent.id/3-lagu-pendidikan-yang-penuh-makna/. 2017.

[9] Dewey John. Pendidikan Dan Kebudayaan Menurut Ki Hadjar Dewantara. SILABUS.web.id, https://www.silabus.web.id/pendidikan-dan-kebudayaan-menurut-ki-hajar-dewantara/. 2019.

[10] KEMDIKBUD, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V (KBBI V). Badan Bahasa KEMDIKBUD RI, 2019.

[11] Pengertianmenurutparaahli.net. Pengertian Bakat Menurut Para Ahli. pengertianmenurutparaahli.net, https://www.pengertianmenurutparaahli.net/pengertian-bakat-menurut-para-ahli/. 2020.

[12] Kwatir Nasional Gerakan Pramuka. Petunjuk Penyelenggaraan Satuan Karya Pramuka. NO. 170A, Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, 2008.

[13] Amelia Hadiwinata. Menjadi Manusia Yang Produktif. Kompasiana, https://www.kompasiana.com/nataamelia/58ee20b274977384357e7b0d/menjadi-manusia-yang-produktif. 2017.

[14] Universitas Lampung. BAB II. digilib.unila.ac.id, pp. 10–28, https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://digilib.unila.ac.id/4309/15/BAB%2520II.pdf&ved=2ahUKEwj-6rzn6dbpAhXIbSsKHR5jByEQFjAAegQIAhAB&usg=AOvVaw2s-2ZGMsBIapdYGrBjn-Oc. Accessed 15 Feb. 2020.

[15] Siti Rohmi Amini. Kuasai Bahasa Asing Untuk Hadapi Persaingan Global. JAWA POS Radar Kudus, https://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/05/129815/kuasai-bahasa-asing-untuk-hadapi-persaingan-global. Apr. 2019.

Saya Manuela Rahel Tamaela, alumni SMAK Dipo tahun 2020, jurusan Bahasa. 


Pada tanggal 25 Mei 2020 kemarin saya membuat Karya Tulis Ilmiah bertema Pendidikan Kepramukaan sebagai Media dalam Mengentaskan Problema Kemiskinan di Indonesia. Karya Tulis ini sekaligus menghantarkan saya menjadi anggota ATAS (Asosiasi Pramuka Garuda Sedunia) pada tanggal 2 juni 2020 lalu. Saya harap dengan dimasukkannya karya tulis saya pada web sekolah, akan menginspirasi banyak warga sekolah ataupun semua orang yang membaca meskipun bukan dari kalangan Pramuka. 

https://www.instagram.com/tv/CCPnU2Jjlm1/?igshid=1w2k6e62kqjb

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *