Cerita : CINTA DALAM DIAM

Aku hanya mengangguk dan membawa tas pakaian dan tenda Regu Matahari ke tempat panitia. Setelah semua barang sudah dititipkan panitia, kami berdua langsung meluncur ke arah Mall, sesampainya di mall aku langsung menuju toko yang menjual berbagai macam DVD film Korea yang sangat aku gemari. “Kak untuk yang ini harganya berapa?” Tanyaku pada pramuniaga toko, “Disini serba 50.000 dek, silahkan” Kata Pramuniaga itu dengan ramah, “Oke aku mau beli 3 yang ini, itu, dan yang ini” Kataku, “Oke totalnya 150.000, pembayaran dengan apa?” Tanya Kasir dengan ramah, “Cash aja kak” Balasku, “Baik kak terimakasih, silahkan datang kembali” Ucap Kasir dengan ramah. Dari kejauhan kulihat Raka melambaikan tangannya kepada aku mengisyaratkan untuk segera berangkat ke bumi perkemahan karena tak terasa sudah 1,5 jam aku berkeliling mencari DVD kesukaan ku.

“Kuy lah udah ditunggu panitia” Ajak Raka, “Gass” Balasku.

Sesampainya di bumi perkemahan, kami segera menemui regu kami masing-masing.

“Rose! Sini!” Panggil Dita, “Loh yang lain ke mana dit?” Tanyaku, “Otw katanya, tunggu aja, nah itu Lea sama Lisa” Seru Dita, “Sini guys!” Panggilku,

“Tinggal Gaby doang nih yang belum nongol” Ujar Lea, “Lah Farah, Caca, sama Nindy kemana?”Tanyaku, “Registrasi sama sekalian ngambil nomor tenda” Jawab Lea.”Astaga yang ngambil satu orang, yang ngikut sekampung” Candaku.

Akhirnya setelah 2 jam menunggu kami memulai acara kemah dengan upacara pembukaan sekitar 40 menit, dilanjut dengan memasang tenda. “Akhirnya selesai juga tendanya” Seruku dan Dita. Acara kemah berlangsung selama 3 hari 2 malam.

Tak terasa memang 3 hari itu jika bersama teman-teman. “Eh barang Lo udah beres? Gaada yang ketinggalan?” Tanya Nindy, “Aman kok Nin, eh itu di tenda cowok rame banget ada apa ya?” Seruku, “Tanya kakak nya aja yuk!” Ajak Nindy, “Iya yuk, Dit ikut sekalian yuk!” Ajakku, “Permisi kak, itu ada apa ya kok rame gitu di tenda cowok?” Tanyaku pada Kak Dara selaku ketua panitia kemah, “Eh itu ada temen kamu yang tangannya cidera kejatuhan dahan pohon gede disamping tenda dia” Jelas Kak Dara, “Hah, iya kak makasih infonya” Balasku, “Mending kita kesana aja deh, firasat gue gak enak” Ajak Dita, “Iya gue takut itu Raka” Jawabku. Dan benar dugaanku, Raka sedang terbaring kesakitan di samping tenda nya sambil memegangi tangan kirinya yang sakit tertimpa dahan pohon, “Raka!” Seruku, Raka hanya tersenyum kecut seolah ingin menyembunyikan rasa sakitnya sambil berbisik “Gue gak papa”, “Masa tangan patah bilangnya gapapa” Ujar Nindy, “Eh Rose ada si Ghina tuh sama Stevy” Tunjuk Dita, dengan refleks aku memanggil Stevy dan Ghina pun mengikutinya, “Eh lo Ghina ya?” Tanyaku, “Eh iya halo salken ya, Lo siapa? Ohh gue inget, Lo yang deket sama Raka itu kan” Kata Ghina, Sebenarnya dalam hati ingin mengiyakan kata-kata Ghina, tapi apa daya demi kebahagiaan Raka aku diam saja, “Oh gue sahabatnya Raka, hm kita bisa ngomong bentar gak hehe” Kataku, “Oh boleh dimana?” Tanya Ghina, “Di pojok sana aja” Tunjukku. “Jadi gini Ghin, gue kan sahabatnya Raka, jadi gue mau ngomong sesuatu tapi lo jangan marah ya” Ucapku perlahan, “Santai aja mau ngomong apa emangnya?” Tanya Ghina, “Hm jadi Raka cerita sama gue, kalau dia tuh suka sama lo, tapi dia takut soalnya lo itu cuek dan gak pernah nanggepin dia sama sekali, dan katanya Raka sih lo deket sama kakel jadi dia takut banget buat deketin lo, jadi gitu ceritanya tapi lo jangan marah ya” Jelasku, “Haha Iya bener kata Raka gue deket sama kakel, sebenarnya sejak SMP sih gue deket sama kakel itu, kebetulan dia juga kakel gue di SMP, namanya Kak Aldi, dia emang baik banget jadi gue semakin suka sama dia, dia juga sering antar jemput gue soalnya rumah kami deketan, oh ya untuk perasaannya Raka maaf tapi dia harus ngehapus perasaan itu, soalnya perasaan gue cuman buat Kak Aldi, kalau mau bisa kok gue temenan sama Raka” Jelas Ghina, “Huh, tidak menghargai perasaan orang sama sekali, “beraninya dia menolak Raka dengan begitu manis di depan sahabatnya sendiri” Batinku.

1 tanggapan pada “Cerita : CINTA DALAM DIAM”

  1. Memang …. kadang CINTA tidak harus diucapka.
    Carolina teruslah berkarya
    Asah ketajaman nuranimu dalam goresan tinta

Tinggalkan Balasan