Sebuah Pengakuan Alumni SMAK

Kisah tak terlupakan di SMAK Diponegoro:Saya dulu, selama sekolah di SMAK Blitar, tidak punya seragam pramuka (karena, saya fakir miskin, ora isa tuku seragam). Tiap Jumat-Sabtu, saya tetap pakai seragam untuk hari Rabu-Kamis, yaitu baju putih dan celana hijau tua, dan kucing2an, agar tidak “ketangkap”.Akibatnya, sama Pak Johan sering dihukum. Hampir setiap Jumat/Sabtu pagi, tiap minggunya, saya dihukum. Salah satu pohon jambe ndawe (Palm), yang pernah tumbuh besar, di depan pojok kanan, halaman sekolah, adalah “karya” tanaman saya, pas dihukum. Lalu, karena bosen dihukum terus, saya cari akal. Pas Kelas 2, kelas saya di IPA2, di dekat lab kecil selatan, depan kantin (dulu) . Kelasnya kecil, dan speaker untuk memanggil siswa, pendek saja. Bisa saya raih, dengan berdiri di atas meja. Sejak menemukan ide menyelamatkan diri, tiap Jumat/Sabtu pagi, sebelum siswa2 lain pada datang, saya sudah datang duluan, lalu kabel sound system kelas saya putus satu, sehingga sound system tidak bekerja. Nantinya, kalau sudah agak siang, kabel itu saya sambung lagi. Dengan cara begitu, untuk beberapa minggu, saya selamat, tidak dihukum oleh Pak Johan.Pada suatu hari, rupanya, Pak Dojo, ayahandanya bro Sonny Soendojo, memanggil para pemain basket, agar keluar dari kelas, untuk sesuatu keperluan/latihan. Padahal dari 5 pemain utama tim basket SMAK, waktu itu, 4 orangnya adalah murid dari kelas saya. Akhirnya, Pak Dojo datang ke ruang kelas, dan begitu ada di depan pintu, beliau langsung marah2. Lha, tentu saja, para pebasket, Go Wie Tjae, dkk., menyampaikan bahwa mereka tidak mendengar panggilan. Guru yang sedang mengajar (kalau tidak salah, Pak Adri, guru kimia), juga memberikan kesaksian, bahwa, tidak ada pengumuman apa2.Akhirnya, mereka, para pemain basket itu, keluar semua, tanpa tahu duduk masalahnya di mana.Sejak itu, saya jadi takut juga. Kebiasaan mutus kabel saya hentikan. Takut ketahuan. Dan, kembali, saya langganan dihukum oleh Pak Johan. “Lu lagi…lu lagi…”, mungkin begitu batinnya Pak Johan.Wis, nasib…hehehe…

Satu Komentar pada “Sebuah Pengakuan Alumni SMAK”

  1. Semangat slalu mas ananda pandu… 👏💪
    Semoga pengalaman nya ini bisa membuat anak anak jaman sekarang ini,tidak berfikir negatif bila di tegur,dimarahi bapak ibu guru 🥰
    Aq aja pernah di lempar penghapus sama alm bpk mikael karena waktu pelajaran emm saya bercanda dengan temen temane cowok dan duduk dibangku belakang sendiri 😅😅. Tapi itu kenangan tak terlupakan….
    Gbu all.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *